Hampir Setahun Menunggu, Atlet Disabilitas Lahat Desak Kepastian Bonus Rp4,6 Miliar
LAHAT, JENDELA SUMSEL – Prestasi membanggakan ditorehkan kontingen Kabupaten Lahat pada Pekan Paralympic Provinsi (Peparprov) Sumatera Selatan 2025 di Musi Banyuasin (Muba). Sebanyak 226 medali berhasil dibawa pulang, terdiri dari 126 emas, 60 perak, dan 40 perunggu.
Namun, di balik pencapaian tersebut, para atlet disabilitas masih menanti realisasi bonus yang hingga kini belum kunjung cair. Total anggaran yang dibutuhkan untuk memberikan penghargaan kepada para atlet itu diperkirakan mencapai Rp4,6 miliar.
Hampir setahun setelah berjuang mengharumkan nama daerah, kepastian pencairan bonus masih menjadi tanda tanya. Padahal, bagi sebagian atlet, bonus tersebut bukan sekadar penghargaan atas prestasi, tetapi juga menjadi tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai latihan.
Ketua National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Lahat, Muhammad Soleh, mengatakan kontingen Lahat memberangkatkan sekitar 130 atlet pada Peparprov 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 120 atlet berhasil menyumbangkan medali.
“Bonus ini merupakan hak atlet. Harapan kami bisa direalisasikan melalui APBD Perubahan 2026, karena pada APBD induk 2026 belum dianggarkan,” ujar Soleh.
Butuh Rp4,6 Miliar untuk Bonus Atlet
Berdasarkan besaran bonus pada penyelenggaraan sebelumnya, atlet peraih medali emas mendapatkan Rp20 juta, perak Rp7,5 juta, dan perunggu Rp5 juta.
Dengan capaian 126 medali emas, 60 perak, dan 40 perunggu, total kebutuhan bonus diperkirakan mencapai Rp4,6 miliar.
Soleh yang juga merupakan atlet anggar nasional NPCI Lahat memahami betul perjuangan para atlet dalam meraih prestasi. Menurutnya, banyak atlet disabilitas yang harus membagi waktu antara berlatih, bertanding, dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebagian atlet bekerja sebagai buruh harian lepas, sementara lainnya menggantungkan penghasilan dari usaha mandiri.
“Teman-teman ada yang bekerja sebagai buruh harian lepas dan wiraswasta. Bonus ini bisa menjadi tambahan pendapatan. Apalagi, untuk latihan dan kebutuhan lainnya juga membutuhkan biaya,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap hak para atlet yang telah berjuang membawa nama Kabupaten Lahat di tingkat provinsi maupun nasional.
Atlet Nasional Siap Sampaikan Aspirasi
Prestasi atlet disabilitas Kabupaten Lahat tidak hanya berhenti di tingkat provinsi. Sejumlah atlet bahkan telah menembus kompetisi nasional dan berkiprah di berbagai cabang olahraga.
Di antaranya atletik, panahan, renang, anggar kursi roda, tenis meja, bulu tangkis, catur, taekwondo, voli duduk, hingga bowling.
Namun, belum cairnya bonus mulai menimbulkan keresahan di kalangan atlet. Mereka menginginkan kepastian mengenai kapan penghargaan atas perjuangan tersebut dapat direalisasikan.
Soleh mengatakan, NPCI Lahat telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) serta Komisi IV DPRD Kabupaten Lahat. Hingga kini, pihaknya masih mengedepankan dialog untuk mencari solusi.
“Kami dari NPCI tetap berupaya menempuh jalan dialogis. Tetapi memang kawan-kawan sudah mendesak karena mereka juga membutuhkan kepastian,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa para atlet nasional siap bertemu dengan Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, untuk membicarakan penyelesaian persoalan bonus tersebut.
Sementara itu, Putra, atlet para atletik yang juga berstatus atlet nasional, mengaku siap ikut menyuarakan aspirasi apabila keresahan para atlet tidak kunjung mendapat kepastian.
“Kami bakal turun ke jalan kalau memang kawan-kawan sudah resah. Apalagi, bonus ini bisa menjadi penambah semangat kami dan tambahan pendapatan,” tegas Putra.
Pernyataan tersebut mencerminkan besarnya harapan para atlet agar pemerintah daerah segera memberikan kejelasan. Mereka berharap persoalan ini dapat diselesaikan melalui komunikasi dan langkah konkret tanpa harus berlarut-larut.
Dispora: Bonus Atlet Masih Direviu Inspektorat
Terpisah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kabupaten Lahat, Dr. Hasferi Susanto, mengungkapkan bahwa persoalan bonus atlet Peparprov maupun Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) saat ini masih dalam proses reviu oleh Inspektorat Kabupaten Lahat.
“Kita tetap berupaya agar bonus para atlet bisa cair,” ungkap Hasferi.
Proses reviu tersebut menjadi salah satu tahapan yang masih berjalan sebelum ada kepastian lebih lanjut mengenai realisasi bonus bagi para atlet.
Kini, para atlet berharap Pemkab Lahat dapat memberikan kejelasan terkait penganggaran dan pencairan bonus melalui APBD Perubahan 2026.
Mereka telah menuntaskan perjuangan di arena pertandingan dengan membawa pulang ratusan medali untuk Kabupaten Lahat. Setelah melewati latihan, persaingan, dan berbagai keterbatasan, hal yang kini mereka nantikan adalah kepastian penghargaan atas prestasi tersebut.
Sebab, bagi atlet disabilitas yang terus berjuang mengharumkan nama daerah, bonus bukan semata-mata persoalan nominal. Di dalamnya ada harapan untuk membantu kebutuhan hidup, menunjang biaya latihan, sekaligus menjaga semangat agar tetap berprestasi.
(Arg)

Tidak ada komentar